Angkringan

🗓 26 July 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 26x dibaca
Angkringan

Sebuah potret kuliner legendaris masyarakat kelas bawah sejak puluhan tahun lalu yang terus berkembang menembus semua lapisan, mulai dari rakyat kecil hingga pejabat dalam gemerlapnya era digital yang mendunia.

Kata angkringan adalah sebuah kata dari Bahasa Jawa yang kuno, namun uniknya kata  itu makin populer bukan hanya di kalangan masyarakat bawah namun juga di kalangan millennial di era digital ini. Kata angkringan terus berkembang seolah mendunia dan lepas melesat dari makna denotasinya, kini maknanya bergeser seolah menggantikan kata kafe, rumah makan bahkan menjadi nama sebuah acara di TVRI yang sangat populer, yaitu sebuah acara gelar wicara (talkshow) komedi budaya berbahasa Jawa legendaris di TVRI Yogyakarta. Istilah "angkringan" berasal dari bahasa Jawa, yakni kata "angkring", yang memiliki dua makna utama, yaitu merujuk pada alat jualan makanan keliling yang dipikul, atau merujuk pada perilaku "duduk santai/bersandar" sebagai kebiasaan pelanggan yang nongkrong makan di angkringan itu. Kata angkringan juga identik dengan menu nasi kucing, kopi joss, wedang jahe, singkong goreng dan sejenisnya. Jika kita mendengar kata angkringan yang muncul dalam benak kita adalah menu tradisional yang enak dan murah itu.

Sejarah Angkringan

Secara historis angkringan berkaitan erat dengan budaya kehidupan masyarakat. Angkringan bermula sejak sekitar tahun 1930-an di Desa Ngerangan, Klaten. Dipelopori oleh Mbah Karso Djukut, usaha ini awalnya berupa jualan makanan "terikan" menggunakan pikulan, kemudian dilengkapi dengan minuman hangat dan selanjutnya berinovasi menggunakan gerobak kayu pada 1970-an, yang kini menjadi ikon kuliner rakyat.

Evolusi dan Perkembangan

  • Dari Pikulan ke Gerobak

         Pada era tahun 1940-an, pedagang menjajakan dengan cara memikul dagangannya keliling.                   Namun saat ini pengunjung dapat menikmati hidangan dengan duduk santai di bangku panjang             yang dikenal dengan istilah angkring.

  • Persebaran di Solo dan Yogyakarta

         Usaha ini berkembang pesat di Solo sebagai "Warung Hik" (Wedangan) dan di Yogyakarta                       sebagai "Angkringan" yang dipelopori oleh Mbah Prawiro pada tahun 1950-an.

  • Menu Khas

        Ciri khas angkringan yang ikonil adalah Nasi Kucing, porsi nasi berbumbu dengan lauk kecil                    seperti sambal teri, yang ditemani aneka sate (usus, telur puyuh dll.), gorengan, dan minuman                seperti Kopi Joss.

  • Angkringan di Era Digital

        Seiring dengan berkembangnya image di tengah masyarakat bahwa angkringan adalah tempat              nongkrong sekaligus menikmati menu tradisional yang enak, unik, tempat yang natural, ramah                lingkungan, ramah anak karena bebas dari minuman beralkohol dan menu makan tradisional                  tanpa tambahan zat-zat kimia berbahaya yang aman bagi usus dan lambung kita, serta yang                  paling penting adalah ramah di kantong sehingga angkringan menjadi semakin populer bukan              hanya di pulau Jawa namun telah menembus hingga pulau Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali              hingga Papua dan lain-lain. Kini angkringan dengan konsep kuliner yang bernuansa kerakyatan              dapat menjadi alternatif tempat wisata keluarga yang sangat terjangkau.

Warung Koboi

Warung Koboi adalah versi lain kuliner kerakyatan. Kuliner ini sebenarnya sama dengan angkringan hanya sebutan lain oleh sementara orang. Warung koboi memiliki dua latar belakang yang populer di Indonesia.

Versi yang Pertama adalah berasal dari Klaten, Jawa Tengah (kawasan Ceper) dan Yogyakarta, yang merujuk pada penjual makanan keliling (terutama Soto atau Angkringan) yang menjajakan dagangannya di luar daerah asal dan menjadi tempat nongkrong seniman.

Versi Kedua adalah jenis warung makan legendaris di Baturaden, Purwokerto, yang awalnya bernama Warung Mbok Sirem. Berdiri sejak tahun 1981, warung ini dinamai "Warung Koboi" oleh para pelanggannya karena letaknya yang dulunya berada di area terbuka dan suasananya yang dianggap bebas serta merakyat. Angkringan disebut sebagai warung koboi oleh sebagian orang di Yogyakarta karena suasananya yang bebas, santai, dan egaliter, mirip dengan suasananya kedai minum para koboi di film-film lama.

Filosofi Angkringan

Filosofi angkringan berakar pada nilai kehidupan masyarakat Jawa yang bernuansa kesetaraan, kebersamaan, dan kesederhanaan. Berasal dari kata "angkring" yang berarti duduk santai, tempat ini meleburkan semua batasan status dan strata sosial mulai dari rakyat kecil hingga pejabat. Siapa pun bisa duduk berdampingan di bangku kayu dengan menikmati nasi kucing dan kopi joss dalam suasana keakraban yang hangat.

Berikut adalah nilai-nilai utama yang terkandung dalam budaya angkringan antara lain:

  • Kesetaraan

         Artinya tidak ada sekat kelas strata sosial di antara pengunjung, dari pejabat, mahasiswa, dan                 pekerja kasar hingga buruh berbaur menjadi satu tanpa memandang latar belakang.

  • Kesederhanaan

         Dimulai dari menu (seperti nasi kucing, gorengan, sate usus) hingga gerobak kayu dan tenda                 sederhana, semua mengajarkan rasa syukur terhadap hal-hal mendasar. Ini juga mengedukasi               kita bahwa kita bisa meraih kebahagiaan itu tidak harus dengan cara-cara yang serba glamour,             serba mewah, serba gemerlap dan serba mahal.

  • Kebersamaan

         Suasana hangat yang penuh rasa persahabatan di ruang yang terbatas mendorong interaksi                   sosial dan komunikasi terbuka, saling asah saling asih dan saling asuh yang dapat menciptakan             rasa solidaritas, empaty bahkan dapat menjadi motivasi karena mereka para pengunjung dari                 berbagai penjuru berbagi tentang manis pahitnya pengalaman kehidupan mereka, tak sengaja               menjadi sangat berguna bagi yang mendengarnya bahkan lebih berharga dari kuliahnya seorang           Profesor.

  • Gotong Royong dan Kegigihan

         Angkringan dapat menggambarkan potret perjuangan hidup masyarakat kelas bawah yang                     dengan gigihnya mencari nafkah untuk keluarganya tanpa mengenal lelah dan mengantuk, tetap           ramah dan bersemangat membuatkan kopi joss atau wedang jahe kepada para pengunjung di               tengah malam yang dingin sementara orang lain asyik berkumpul bersama anak istri, menonton             TV atau tidur pulas di kasur yang empuk.

Angkringan di Argodadi

Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa angkringan adalah kuliner untuk segala lapisan masyarakat, sehingga angkringan juga berkembang hingga pelosok kampung. Kelihatan di sudut-sudut jalan atau dekat komplek perumahan, pertokoan, perkantoran di Kalurahan Argodadi dengan ciri khas warung tenda angkringan pada umumnya buka mulai pukul 17.00 Wib hingga larut malam bahkan pagi hari. Semakin banyak angkringan yang buka, ini sebagai pertanda geliat ekonomi masyarakat kelas bawah dalam melakukan usahanya.

Demikian sekilas tentang angkringan, kuliner tradisional khas Jogja dan sekitarnya.

Semoga bermanfaat.

Terima Kasih.

Wassalam.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita