Kerajinan Sapu Lidi "Srikandi"

🗓 21 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 27x dibaca
Kerajinan Sapu Lidi

Terinspirasi oleh kisah heroik panglima perang wanita Srikandi, Ibu Winarsih mampu bangkit dari titik yang paling rendah mampu membangun sebuah usaha mandiri di tengah gelombang krisis ekonomi.

Sepintas kalau dilihat sebuah sapu lidi adalah hanya sebuah benda yang tidak berharga, hanya digunakan untuk menyapu halaman sesudah itu diletakkan entah di mana mungkin disandarkan saja di tembok luar rumah kepanasan, kehujanan siang dan malam. Itu pemandangan yang biasa kita lihat di sekitar kita. Namun di balik itu sebenarnya sapu lidi memiliki nilai sejarah dan filosofi yang sangat tinggi. Sapu lidi adalah simbol kekuatan. Jika lidi itu hanya satu, lidi mudah dipatahkan, tidak mempunyai kekuatan sedikitpun, namun jika lidi itu banyak  dan diikat menjadi satu tak akan bisa dipatahkan oleh siapapun. Itu sebuah perlambang bagi kehidupan manusia, ketika manusia bersatu padu, bergotong royong saling bahu membahu, tidak akan mudah dihancurkan oleh siapapun selaras dengan slogan "bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh". Berangkat dari sejarah peradaban manusia di negeri ini, konon cerita, menunjukkan bahwa sapu lidi tidak hanya digunakan sebagai alat kebersihan, namun memiliki nilai historis dan mistis. Pada masa kerajaan Islam pertama di Jawa, pada zaman Kesultanan Demak (abad ke-16), lidi kelapa atau aren yang dikenal dengan istilah Sodo Lanang diyakini memiliki kekuatan magis dan digunakan sebagai alat ajar. Sodo Lanang adalah lidi yang jatuh pertama kali dari pohonnya dan langsung menancap ke tanah. Pada masa syiar Islam, para Wali menggunakan Sodo Lanang ini sebagai penunjuk huruf Hijaiyah untuk santri atau masyarakat yang sedang belajar membaca Al-Quran. Karena dianggap sakral dalam tradisi kebudayaan Jawa, benda ini sering diberi mantera untuk berbagai keperluan spiritual seperti penolak bala. Di Kepulauan Maluku, sapu lidi dari pohon enau juga memiliki catatan sejarah perjuangan yang kuat, pada masa pemerintahan Kesultanan Ternate dan Kerajaan Islam di wilayah tersebut. Dalam catatan sejarah Perang Kapahaha 1637-1646) di Maluku Tengah, para pejuang lokal menggunakan lidi enau sebagai senjata tajam untuk melawan VOC. Peristiwa heroik tersebut kini diabadikan dan selalu dikenang oleh masyarakat melalui aktraksi budaya Pukul Sapu Lidi yang rutin diadakan di Negeri Mamala dan Morella setiap tahunnya pada bulan Syawal. Atraksi ini memperlihatkan dua kelompok yang saling memukul menggunakan lidi hingga berdarah sebagai simbol penghormatan atas perjuangan dan pengorbanan para leluhur di masa kerajaan dahulu. Sapu lidi juga mempunyai Nilai Mistis dan Budaya, di beberapa daerah di Indonesia, sapu lidi memiliki makna spiritual. Misalnya, ada tradisi meletakkan sapu lidi di atas kasur sebagai alat untuk menjaga kebersihan sekaligus dipercaya sebagai penolak bala atau gangguan gaib. 

Mengapa dengan brand "Srikandi" , apa relevansinya?

Bagi masyarakat Jawa (penggemar cerita wayang kulit) nama Srikandi adalah sebuah nama yang tidak asing lagi. Srikandi adalah satu tokoh wanita dari dunia pewayangan yang sangat terkenal dengan ceritanya yang sangat heroik sebagai panglima perang Pandawa (pembela kebenaran) yang mampu mengalahkan seorang tokoh Kurawa (pembela kejahatan) yang bernama Resi Bisma yang menjadi panglima perang dalam kisah perang Bharatayuda. Filosofi dari tokoh ini dalam budaya pewayangan dan sastra Nusantara, adalah bahwa Srikandi melambangkan emansipasi, kekuatan, dan keteguhan hati perempuan. Ia membuktikan bahwa kelembutan tidak identik dengan kelemahan. Ibu Winarsih yang pada saat itu hidupnya berada dalam titik terendah, sangat pahit, lantaran harus menjadi seorang single mom menjadi tulang punggung keluarga yang harus menghidupi keluarga dan putra-putranya, harus bangkit, tetap survive bagaikan Srikandi. Dia tidak menyerah begitu saja, tidak cukup menangis dan mengeluh meratapi nasibnya, itu bukan sebuah jalan keluar, tetapi justru sebaliknya, kondisi itu berbalik menjadi sebuah kekuatan yang mendorongnya untuk bangkit membangun sejarah kehidupan baru, dengan semangat yang terinspirasi dari kisah Srikandi.

Sejarah Pengrajin Sapu Lidi "Srikandi"

Ibu Minarsih, yang tinggal di Pedukuhan Cawan, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu (300 meter sebelah timur destinasi wisata Praon Cawan) adalah seorang pengusaha kerajinan sapu lidi "Srikandi" sejak bulan Januari 2026. Pada awalnya pada tahun 2016 dia mulai merintis usaha alat-alat kebersihan rumah tangga, terutama sapu lidi, sapu sabut, sikat pembersih dan lain-lain. Memasarkan dagangannya ke toko-toko di beberapa wilayah di Sedayu, Kulon Progo hingga Minggir Sleman. Awalnya semua dagangannya dibeli dari pengrajin lain dan tidak ada satupun yang dibuat sendiri. Seiring dengan berjalannya, permintaan pasar akan sapu lidi semakin lama semakin banyak, sehingga ibu ini sering kewalahan memenuhi permintaan konsumen lantaran stok sapu lidi sangat tergantung pada pengrajin di kawasan Kulon Progo yang sangat terbatas. Bermula dari sebuah analisis SWOTnya banyak potensi yang dapat disinergikan, peluang pasar dan tenaga kerja terutama, mendorongnya untuk memproduksinya sendiri di rumahnya. Dengan bantuan seorang pengrajin sapu lidi yang baik hati dari Wonokromo Pleret Kabupaten Bantul dia mulai mengadakan training membuat sapu lidi yang diikuti oleh sanak saudara dan tetangganya selama 2 minggu. Usaha kerajinan sapu lidi telah dimulai selaras dengan visi dan misinya yang luar biasa "memajukan perekonomian di wilayah Bantul Barat" yang selama ini masih redup. Keputusan ini ternyata tidak sia-sia, direspon positif oleh lingkungan masyarakat sekitar. Mulai saat itulah atas dukungan masyarakat "Srikandi" mampu memproduksi sapu lidi hingga sekarang.

Proses Produksi

Untuk dapat memproduksi sapu lidi dibutuhkan bahan-bahan antara lain lidi, kayu papan untuk lakar (pengikat lidi), bambu untuk gagang, tali dan paku. Langkah pertama lidi dikelompokkan yang panjang (75 cm ke atas) dan yang kurang dari 75 cm, untuk membuat produk yang berbeda. Selanjutnya lidi dijemur atau dioven hingga kering. Bersamaan dengan itu dilakukan proses pembuatan lakar atau pengikat lidi dari papan pohon maoni yang dipotong-potong dengan desain bulat dan oval. Selanjutnya lakar dibuat lubang tempat lidi, dan diamplas. Proses yang lain adalah penyiapan bambu kecil yang dipotong-potong untuk gagang. Sesudah semua bahan siap, semua bahan dirangkai menjadi sebuah sapu lidi. Kemampuan produksi dalam sehari sekitar 100 buah sapu lidi.

Dimulai dari sebuah manajemen produksi yang bagus

Untuk menciptakan sebuah proses produksi yang efektif dan efisien tak lepas, manajemen yang baik, salah satu cirinya adalah pembagian tugas pekerja sesuai kemampuan masing-masing (the right man in right place), ada spesialisasi bidang pekerjaan. Telah terbukti hasilnya akan lebih baik lebih cepat dan lebih berkualitas ketimbang dikerjakan oleh satu orang dari awal hingga akhir. Srikandi ini sepertinya sudah menerapkan manajemen produksi yang sangat baik. Dari beberapa langkah pembuatan itu dilakukan oleh orang yang berbeda sesuai kemampuan (skill). Proses produksi membuat sapu lidi ini tergolong cukup panjang dan rumit. Salah satu prosesnya adalah pembuatan lakar (pengikat lidi), yang meliputi 5 tahapan, yang pertama pembuatan pola (bulat atau oval), kedua pemotongan papan berbentuk segi empat, ketiga pembentukan papan menjadi bulat/oval, keempat pembuatan lubang lidi, dan kelima pengamplasan. Semua proses pekerjaan ini dikerjakan oleh orang yang berbeda dengan mesin yang berbeda. Proses yang lain adalah proses memasukkan lidi ke dalam lubang-lubang pada lakar. Proses yang lain adalah proses memasang/memasukkan lidi ke dalam lubang lakar yang dikerjakan oleh 8 orang/ibu-ibu rumah tangga sekitar. Proses terakhir adalah finishing yaitu merangkai bagian-bagian tersebut menjadi sebuah sapu lidi yang siap dipasarkan.

"Srikandi" Mampu Menyerap Tenaga Kerja

Sebuah prestasi yang pantas diapresiasi ditengah lesunya ekonomi masyarakat, Srikandi hadir memberi sebuah solusi. Pada saat ini Ibu Winarsih telah mampu memperkerjakan 5 orang (laki-laki) sebagai pekerja tetap yang setiap hari bekerja di workshopnya. Yang menjadi sebuah kepuasan tersendiri adalah satu orang diantara pekerja tersebut adalah seorang remaja putus sekolah karena/tidak mau melanjutkan studynya. Melihat kondisi seperti ini Ibu Winarsih merasa terketuk hatinya untuk dapat menolongnya dengan cara merekrutnya sebagai salah satu pekerja di tempat usahanya tetapi dengan syarat dia, si remaja itu harus tetap melanjutkan belajarnya sebuah Program Pendidikan Kesetaraan. Tawaran itupun diterima dan mulailah si remaja belajar sambil bekerja. Sungguh suatu strategi yang sangat cerdas, sangat bermanfaat bagi orang lain, selaras dengan sebuah kutipan dari hadis Rasulullah SAW yang sangat populer, yaitu: "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya" (HR.Ahmad, ath-Thabrani, dan Daruqutni). Satu hal lagi yang tidak kalah menariknya, Srikandi juga merekrut 8 ibu rumah tangga sekitar sebagai pekerja freelance yang bertugas memasang lidi ke dalam lakar. Pekerjaan itu dikerjakan di rumah masing-masing. Tentu saja pekerjaan ini juga sangat membantu para ibu, pekerjaan diselesaikan di rumah di sela-sela waktunya mengurus keluarga dan tentu saja memperoleh pendapatan untuk menopang kebutuhan sehari-harinya. Sungguh luar biasa, sebuah langkah yang patut diapresiasi dan semoga segera muncul Srikandi-Srikandi yang lain di Argodadi.

Kendala yang di hadapi

Sudah barang tentu menjalankan roda usaha pasti ada kendala yang harus dihadapi. Ada dua kendala yang cukup mengganggu jalan usahanya, yang pertama adalah ketersediaan bahan dasar lidi yang sangat terbatas di sekitar Argodadi terlebih kualitasnya. Sehingga Srikandi harus mendatangkan lidi dari Pangandaran karena ukuran lidinya lebih panjang dan kuat. Kendala kedua adalah tegangan daya listrik yang tidak stabil, tegangan yang terkadang kurang dari 220 sehingga sering mengakibatkan kerusakan pada mesin-mesin yang digunakan. Ini tentu saja menjadi tanggung jawab PLN untuk segera memperbaikinya.

Jaringan Pemasaran dan Distribusi

Sampai saat ini untuk jaringan pemasaran masih cukup bagus oleh karena pengalaman Srikandi dalam berdagang sudah dimulai semenjak usahanya sebagai pedagang keliling yang dimulai sejak tahun 2016. Pada mulanya angkutan dagangan yang digunakan adalah sepeda motor, namun karena sebuah kecelakaan Ibu Winarsih kemudian menggunakan motor roda tiga dan sekarang sudah digunakan mobil pick up sebagai sarana transportasinya. Melihat prospek yang masih sangat terbuka, Srikandi akan terus bertekat berekspansi bukan sekadar mengejar profit sebanyak-banyaknya, namun lebih kepada tekatnya untuk dapat berbagi dengan orang lain, ikut mengurangi pengangguran, mengedukasi masyarakat dan membangun ekonomi masyarakat jika ada dukungan permodalan yang memadai. Semoga.

Terima Kasih telah membaca artikel ini semoga menginspirasi.

Wassalam

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita