Sendang "Ringin Mulyo"

🗓 01 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 180x dibaca
Sendang

Yang terlihat pada gambar sebuah pemandangan dari sepotong episode dari serangkaian proses tradisi budaya yang berawal dari Sendang Ringin Mulyo oleh warga, tokoh masyarakat Sungapan beserta para pejabat pemerintah yang bersatu padu dalam suatu tekad mewujudkan semangat gotong royong bersama dalam acara yang unik dan langka, yaitu apa yang disebut tradisi "merti kali" sebuah kearifan lokal yang layak dilestarikan. Di bawah teduhnya pohon beringin, terpancar aura semangat kebersamaan, kegotongroyongan masyarakat dalam membangun kehidupan masyarakat yang penuh harmoni.

Apa itu sendang? Sendang atau "belik" begitu orang jawa menyebutnya, adalah sumber mata air. Sendang biasanya ditemui di sekitar atau mungkin jauh dari pemukiman penduduk. Letaknya biasanya berada di dataran rendah atau lembah diantara pegunungan, di antara pohon-pohon besar yang rimbun, sehingga nuansanya terkesan mistis, keramat, sakral dan kadang terasa agak menyeramkan. Sendang Ringin Mulyo adalah salah satu dari beberapa sendang yang ada di Kalurahan Argodadi. Menurut sejarah, Sendang Ringin Mulyo ini merupakan warisan alam sejak jaman dahulu kala. Seperti dituturkan oleh juru kunci sendang, Bapak Trisna Utama (85 tahun), Sendang itu sudah ditemukan semenjak nenek moyangnya. Sendang ini tepatnya berada ujung timur Pedukuhan Sungapan yang berbatasan dengan wilayah Triwidadi, Pajangan, Bantul dan berada di tanah Sultan Ground. Menyadari akan pentingnya sendang bagi masyarakat waktu itu, seorang sesepuh yang bernama Simbah Jalal (alm) mengajak masyarakat untuk menanam pohon beringin di dekatnya sebagai upaya konservasi alam dan sekaligus menjaga agar debit air sendang tetap stabil. Disekitarnya tumbuh pohon-pohon lain yang cukup besar seperti pohon Gayam yang konon ceritanya juga sebagai penopang terbentuknya sumber mata air. Dengan kondisi dan letak geografis yang seperti ini, sendang ini masih eksis hingga sekarang dan masih digunakan oleh masyarakat untuk keperluan rumah tangga, mandi dan cuci terutama pada musim kemarau. Namun apabila akan dikonsumsi, air harus direbus terlebih dahulu sesuai dengan hasil uji Laboratium. Seiring dengan perjalanan waktu, fungsi sendang bergeser, bukan saja untuk memenuhi kebutuhan mandi dan cuci, tetapi lebih diberdayakan untuk pengembangan yang lebih inovatif dan berdaya guna bagi masyarakat. Berikut adalah ragam potensi yang tersembunyi di Sendang Ringin Mulyo.

Sendang menjadi pusat informasi, tempat berkumpul dan membentuk lingkungan kehidupan yang harmoni.

Selain sebagai sumber mata air untuk kebutuhan sehari-hari, sendang ini juga berperan dalam membangun kehidupan masyarakat yang bersatu, rukun, damai penuh dengan semangat gotong royong. Hal ini bisa terjadi karena tempat ini menjadi tempat berkumpulnya warga sekitar yang bersama-sama memanfaatkan air sendang. Di sinilah mereka bisa berkumpul, berinteraksi, bercengkerama, berbagi cerita perihal apa saja tentang keseharian mereka. Tak terasa mereka seolah merasa senasib sepenanggungan, sehingga tanpa disadari mereka kadang dapat berbagi tentang bagaimana menyelesaikan suatu masalah, tak ayal mereka juga dapat menemukan gagasan-gagasan untuk kemajuan lingkungan mereka. Di sendang ini juga mereka bisa berbagi informasi penting tentang apa saja yang berkaitan dengan masyarakat.

Sendang sebagai wahana pelestarian tradisi budaya yang bernuansa religi.

Terlepas dari pandangan sementara orang, apakah ini sirik, apakah ini menyekutukan Tuhan atau tidak, tetapi realitanya sejak jaman dahulu kala, tempat ini telah dipercaya oleh sebagian masyarakat sebagai tempat yang sakral, keramat dan ditunggu oleh "dhanyang" atau makhluk gaib penguasa sendang. Sehingga siapapun harus menghormati, menjaganya dan tidak boleh merusaknya. Sikap ini diwujudkan ketika ada warga masyarakat yang mempunyai hajat seolah mereka merasa "wajib" menaruh sesaji sebagai bentuk persembahan kepada si "dhanyang" agar tidak menggangu hajat mereka. Sementara menurut versi kedua, sesaji ini bukanlah suatu persembahan kepada "dhanyang" namun merupakan sebuah ritual seperti halnya labuhan di Pantai Selatan atau di Gunung Merapi yang dilakukan oleh Keraton Yogyakarta, sedangkan maksud dan tujuannya adalah sebagai wujud rasa syukur, penghormatan kepada leluhur, menjaga keseimbangan alam dan membuang sifat buruk. Beda lagi menurut versi yang ketiga, seiring dengan berjalannya waktu dan bergesernya keyakinan karena pengaruh agama asumsi ini juga berubah, menaruh sesaji ini adalah suatu bentuk rasa syukur dan sedekah sebagai perilaku ibadah dan bukannya persembahan kepada makhluk penunggu sendang.

Sendang sebagai wahana pelestarian tradisi budaya yang berwawasan lingkungan.

Dalam perkembangan selanjutnya seiring dengan tuntutan jaman dan kesadaran masyarakat, sendang ini juga memberikan inspirasi dan edukasi akan pentingnya melestarikan lingkungan alam dalam balutan tradisi budaya. Dengan dipelopori para tokoh, masyarakat bersama-sama secara sukarela merawat sendang ini agar tetap lestari. Kegiatan ini akhirnya dikemas dan disinergikan dengan serangkaian acara tradisi serupa seperti misalnya acara merti kali atau memetri  kali karena keduanya memiliki tujuan  yang sama yaitu "memayu hayuning bawono" atau memperindah, melestarikan alam semesta. Suatu bentuk kearifan lokal yang memiliki nilai sosial yang sangat tinggi dan adiluhung. Prosesi ini dimulai dari prosesi pengambilan air sendang oleh warga dan tokoh masyarakat dengan mengenakan pakaian tradisional jawa dan dipimpin oleh Kaum Rois, kemudian air dimasukkan ke dalam "klenthing" atau kendhi dan selanjutnya kendhi diarak sejauh kurang lebih 1 kilometer dari sendang sampai ke arah kali Kontheng (ujung barat Pedukuhan Sungapan). Air sendang selanjutnya dituangkan ke kali. Ini sebagai simbol agar air sendang ini dapat menyatu dengan air sungai dengan harapan keberadaan air akan tetap melimpah dan lestari sepanjang masa. Tradisi ini menjadi momen yang sangat special dan unik dan menjadi pemandangan yang langka sehingga dapat menghibur masyarakat lokal maupun luar. Dalam kesempatan lain, yang tidak kalah menarik, sendang ini juga dijadikan tempat acara penutup dari serangkaian acara pesta pernikahan. Sudah menjadi tradisi hingga sekarang bahwa semua pasangan pengantin sesudah acara  pesta pernikahan selesai dengan disaksikan oleh orang tua, keluarga dan tokoh masyarakat, mereka melakukan tebar benih ikan ke dalam sendang sebagai bentuk syukur  karena hajatnya telah selesai dengan selamat. Disamping itu kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai wujud kepedulian masyarakat untuk ikut andil dalam pelestarian lingkungan. Bagi sang mempelai berdua, prosesi ini memiliki nilai yang lebih tinggi karena ini merupakan sebuah momen yang sangat special, yang mungkin hanya sekali dalam hidup, menjadi suatu kenangan hidup yang sangat indah dan bernilai sejarah yang takkan pernah terlupakan dalam kehidupan mereka di masa mendatang. Sungguh luar biasa.

Sendang sebagai wahana untuk mengedukasi generasi Z dalam pelestarian ekosistem.

Sudah tidak dapat ditawar lagi sebenarnya bahwa baik buruknya bumi kita ke depan berada dalam genggaman tangan kaum muda kita. Namun hingga sekarang isu ini hanya menjadi slogan, wacana dan wacana hanya sebatas menjadi tema yang sangat populer dan sangat menarik dalam sebuah forum diskusi, seminar dan semacamnya. Namun tidak pernah ada tindak lanjut yang nyata. Siapa yang sebenarnya harus mengedukasi generasi muda kita? Apakah kita hanya menunggu dan menunggu hingga lingkungan alam kita hancur oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab? Dan menjadi malapetaka bagi kehidupan kita? Siapa sebenarnya yang harus bertanggung jawab? Tidak ada yang bisa menjawab. Namun di tengah redupnya semangat langkah konservasi ternyata masih ada pihak yang berani mengambil langkah, memulai mendekatkan generasi muda kita pada masalah krusial di masa mendatang. Ini sudah dicontohkan oleh sebuah lembaga pendidikan yakni SDN Sungapan, yang memanfaatkan keberadaan sendang ini sebagai wahana untuk mengedukasi para siswa. Ini sungguh suatu langkah yang luar biasa, yang patut diapresiasi dan dicontoh. Dengan bimbingan para guru, dalam kegiatan outing class, anak-anak diajak ke sendang untuk mengenal lebih dekat, mengamati dan belajar bagaimana cara melestarikan ekosistem. Dari sinilah mulai ditanamkan dalam pikiran mereka akan betapa pentingnya lingkungan alam bagi kelangsungan hidup manusia. Andaikan semua sekolah di negeri ini berani mengambil langkah, merekayasa kurikulum pendidikan yang berbasis lingkungan, niscaya kerusakan lingkungan dapat dicegah sejak dini.

Air sendang membantu sektor pertanian.

Tidak pernah terbayang kiranya selain sederetan  manfaat di atas, sendang ini juga dapat memberikan manfaat lain yang tidak kalah penting terutama bagi para petani. Jika musim kemarau tiba, masalah yang sering terjadi adalah kekurangan air untuk mengairi lahan pertanian tadah hujan dan jika tidak tertolong yang akan terjadi adalah gagal panen. Dalam kondisi yang seperti ini Sendang Ringin Mulyo hadir memberi solusi bagi para petani yang berada di wilayah Kayuhan, Triwidadi, Pajangan. Para petani itu tidak menyia-yiakan air sendang yang terus mengalir dan masuk ke selokan pembuangan. Mereka membendung air dari sendang itu dan dialirkan ke lahan pertanian mereka. Tertolonglah tanaman mereka, tanaman tumbuh dengan baik dan tinggal menunggu masa panen tiba.

Sendang mampu menciptakan sebuah inovasi yang memiliki nilai jual.

Tidak dipungkiri lagi bahwa semakin hari kebutuhan air bersih semakin bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Sehingga yang sering terjadi adalah bencana kekeringan muncul di mana-mana terutama pada musim kemarau. Ada sementara keluarga untuk memenuhi kebutuhan airnya harus mengambil  di tempat jauh atau membeli. Hal ini juga terjadi pada warga Sungapan yang tinggal di bantaran Sungai Progo. Sejak dahulu kala ketika musim kemarau tiba, air sumur mereka terus berkurang bahkan mengering seiring dengan berkurangnya aliran air sungai. Ketika masalah ini terjadi, mulailah berfikir akan bagaimana cara mengatasinya. Jawabannya adalah mengalirkan air Sendang Ringin Mulyo ke rumah-rumah penduduk yang membutuhkan. Dengan diprakarsai oleh Bapak Fuady, dukuh Sungapan, bersama masyarakat, pemerintah dan pihak-pihak terkait terbangunlah sebuah PAB (Penyediaan Air Bersih) untuk warga Sungapan pada tahun 2021. Ini tentu sebuah inovasi yang luar biasa. Pelanggan PAB semakin hari semakin bertambah dan pada awal tahun 2026 jumlahnya mencapai 42 pelanggan yang terbentang dari ujung timur hingga ujung barat wilayah pedukuhan Sungapan dengan panjang jaringan pipa hampir 1 km. Para pelanggan tentu sangat terbantu dan merasa lega karena mereka mendapatkan suplai air bersih dengan tarif yang terjangkau dan kualitas air yang relative lebih baik, karena air yang dialirkan merupakan air murni sendang tanpa treatment apapun. Proyek ini tentu saja masih bisa dikembangkan di masa mendatang seiring dengan tuntutan kebutuhan masyarakat akan kebutuhan air bersih.

Potensi sendang untuk budidaya perikanan di masa mendatang.

Mengingat dan menimbang potensi dan letak geografis sendang ini kiranya sebagai wacana ke depan, sendang akan lebih berdaya guna kalau air buangan sendang ini bisa ditampung dan dimanfaatkan untuk kolam perikanan seperti yang telah dilakukan oleh warga sekitar beberapa waktu yang lalu. Namun karena terbatasnya sarpras mengakibatkan kolam perikanan belum berhasil.

Wacana sendang sebagai wisata pemandian dan kolam renang anak-anak.

Sendang ini sebenarnya sudah sejak dahulu kala hingga sekarang berfungsi sebagai tempat pemandian umum. Mereka yang datang ada yang memang hanya murni ingin mandi biasa namun ada juga sementara orang yang datang untuk mandi dengan maksud tujuan tertentu. Namun jumlah orang yang datang masih sangat sedikit karena sarana prasarana kamar mandi yang jumlahnya masih sedikit dan belum memenuhi standar kelayakan. Ke depan andaikata sarana prasarana  sudah ditata sedemikian rupa, niscaya tempat ini berpotensi sebagai tempat wisata mandi air sendang dengan berbagai maksud dan tujuan. Peluang lain dari potensi sendang yang tidak kalah menarik adalah pembuatan kolam renang anak-anak yang sekarang semakin ngetren dan semakin dicari mengingat masih tersedianya lahan yang cukup luas. Namun apakah mungkin? Jawabannya tergantung pada masyarakat dan semua stake holder.

Terima kasih telah berkenan membaca artikel ini.

Wassalam 

 

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita