Sebuah cagar budaya yang memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan, yang diwariskan oleh Alm Bapak Prawiro Diharjo yang pernah menjabat sebagai Mantri Tani yang dikenal dengan sebutan Den Bei, seorang figure yang dermawan karena sering menampung orang yang membutuhkan tempat tinggal dan membagi makanan.
Sejarah rumah Joglo pada zaman Majapahit
Berbicara tentang warisan budaya (cultural heritage) tidak akan lepas dari zaman kerajaan Majapahit. Rumah Joglo memiliki akar sejarah yang kuat sejak zaman Majapahit (abad 13-15 M), berkembang dari struktur bangunan suci punden berundak dan dipengaruhi arsitektur Hindu-Buddha. Pada masa Majapahit, atap joglo yang menjulang tinggi, menyerupai gunung, melambangkan tempat sakral. Awalnya, hunian ini dibangun khusus bagi kalangan bangsawan atau status sosial tinggi menggunakan kayu jati.
Sejarah dan Karakteristik Joglo Era Majapahit:
Sejarah rumah Joglo pada zaman Mataram Islam
Rumah Joglo adalah rumah tradisional Jawa Tengah dan Yogyakarta yang berakar dari kebudayaan masyarakat Jawa sejak abad ke-16, awalnya merupakan simbol status sosial bangsawan. Atapnya berbentuk gunung (tajug) dengan empat tiang utama (saka guru) yang melambangkan keseimbangan hidup, kebersamaan, dan hubungan dengan Sang Pencipta.
Sejarah dan Perkembangan:
- Saka Guru: Empat tiang utama di tengah ruangan yang melambangkan empat arah mata
angin dan keteguhan hati.
- Teras Terbuka: Melambangkan keterbukaan dan nilai silaturahmi masyarakat Jawa.
- Atap Tinggi: Mencerminkan filosofi hubungan antara manusia dengan Sang Pencipta.
Jenis-Jenis Rumah Joglo:
Berikut adalah beberapa jenis rumah Joglo:
1. Joglo Sinom: Pengembangan dari Joglo dasar dengan teras keliling, dilengkapi 36 saka (tiang) dan atap tiga tingkatan.
2. Joglo Pangrawit: Memiliki atap yang lebih tinggi dan runcing, seringkali menggunakan atap tambahan di sekelilingnya.
3. Joglo Jompongan: Jenis paling sederhana dengan bentuk atap bersusun dua dan lantai bujur sangkar, sering digunakan sebagai rumah tinggal.
4. Joglo Mangkurat: Memiliki atap bertingkat tiga, mirip dengan sinom namun biasanya digunakan oleh kalangan bangsawan atau pejabat.
5. Joglo hageng: Jenis Joglo besar dengan atap yang lebih rendah daripada Pangrawit namun strukturnya lebih megah, sering digunakan oleh Raja.
6. Joglo Semar Tinandhu: Menggunakan dua tiang utama yang sangat besar dan kokoh untuk menopang atap, sering ditemukan pada bangunan keraton.
7. Joglo Lawakan: Model Joglo yang sederhana namun sering kali ditambahkan atap tambahan yang menjorok keluar.
Sekilas tentang Rumah Tradisional (Joglo) milik Bapak Setyo Pranyoto
Seperti disebutkan dalam SK No.693 tahun 2020 tentang Rumah Tradisional milik Setyo Pranyoto sebagai bangunan cagar budaya, rumah tradisional ini menghadap ke arah selatan. Halaman depan berupa pekarangan yang cukup luas. Pekarangan ini ditanami berbagai macam pohon dan dibatasi pagar dari pasangan bata berplester semen. Kompleks rumah tersebut terdiri atas beberapa bagian yaitu pendopo, pringgitan, dalem, longkangan, dan pawon. Pendopo adalah bangunan yang digunakan untuk kegiatan bersifat publik seperti menerima tamu dan pertemuan. Bangunan pendopo berada di bagian paling selatan atau bagian depan dari kompleks rumah. Menurut Setyo Pranyoto konstruksi kayu pendopo masih asli, seluruh bagiannya terbuat dari kayu jati. Bagian pendopo yang telah direhab adalah lantai dan tambahan undakan di sisi selatan. Bangunan pendopo menggunakan bangunan tipe joglo yang terbuka, tanpa dilengkapi dengan dinding atau pagar. Denah pendopo berbentuk persegi panjang dengan ukuran 10,63 m x 9,72 m, sedangkan arah hadapnya ke selatan. Atap pendopo ditutup menggunakan genteng tanah liat jenis genting kripik. Genteng menumpu pada reng di atas usuk. Wuwungan di atas dudur brunjung ditutup dengan wuwungan seng, sedangkan wuwungan di atas molo dan dudur penanggap hingga cukit tritis di tutup dengan wuwungan tanah liat. Pada atap paling atas terdapat hiasan atap berbentuk ayam dan mahkota. Dahulu hiasan ayam ada dua, mengapit mahkota tetapi salah satu hiasan jatuh dan pecah. Hiasan atap berbentuk ayam mengandung arti atau lambang kejantanan, keberanian, dan kelaki-lakian. Jadi merupakan lambang/gambaran orang yang menjadi andalan baik dalam kekuatan fisik maupun batin atau andalan di segala bidang. Seiring perjalanan waktu, kondisi rumah joglo ini perlu direnovasi sebagai bentuk perawatan dan untuk menambah kenyamanan dan nilai estetiknya seperti renovasi lantai dan lain-lain.
Rumah Joglo yang mempunyai nilai sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia yang tak pernah terlupakan
Joglo dibangun oleh Prawiro Diharjo, orang tua dari Ibu Subiratun, kakek Setyo Pranyoto. Rumah Joglo ini difungsikan sebagai pendopo (rumah depan) bukan hanya sebagai ruang tamu namun juga sebagai tempat pertemuan warga lingkungan hingga acara-acara dari kedinasan. Prawiro Diharjo adalah kakek dari Setyo Pranyoto yang pernah menjabat sebagai Mantri Tani. Prawiro Diharjo oleh masyarakat sekitar dikenal sebagai Den Bei, seorang tokoh yang dermawan karena sering menampung orang yang membutuhkan tempat tinggal dan membagi makanan. Pada masa perjuangan kemerdekaan Prawiro Diharjo menyediakan dapur umum bagi para pejuang yang mempertahankan jembatan Bantar di Sedayu melawan penjajah Belanda. Kompleks rumah Setyo Pranyoto saat ini telah dibagi waris, tetapi khusus pendopo diwasiatkan untuk tidak dibagi dan tetap dimanfaatkan untuk kegiatan publik. Joglo dan pringgitan dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti pentas wayang, kethoprak, pengajian, syawalan, merti dusun, suran, resepsi, karawitan, dan pentas budaya. Kegiatan rutin masyarakat yang masih dijalankan adalah latihan gamelan dan latihan gamelan untuk siswa SMP setiap hari jumat.
Sebagai rumah tinggal ini dilengkapi dengan bangunan seperti pringgitan, dalem ageng, pawon, gandok kiwa, dan gandok tengen yang pernah digunakan untuk Sekolah Rakyat dari tahun 1947. Gandok kiwa bahkan digunakan sebagai sekolah SD Sungapan hingga tahun 1985.
Rumah Tradisional yang memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya
Rumah Tradisional milik Setyo Pranyoto di Padukuhan Sungapan RT 68, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul memenuhi kriteria sebagai bangunan cagar budaya karena:
1. Berusia 50 (lima puluh) tahun atau lebih, ditandai merupakan bangunan yang dibangun pada masa kolonial Belanda.
2. Mewakili masa gaya paling singkat berusia 50 (lima puluh) tahun, dari sisi:
a. Bentuk, merupakan karakteristik bangunan jawa yang tercermin pada gaya arsitektur, yaitu
bangunan tipe joglo, limasan, dan kampung.
b. Teknik, menggunakan kayu dengan sistem knock down dan pasangan bata dengan spesi bligon,
sebagai salah satu teknik bangunan pada periode tertentu.
c. Tata Letak, Karakteristik bangunan Jawa tampak pada pola penempatan bangunan dan
pembagian fungsi masing-masing ruangan.
3. Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan, dari kriteria:
a. Sejarah, merupakan informasi tentang kehidupan masa lalu, bahwa di Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu sudah ada sekolah yang diselenggarakan di rumah penduduk. (b) Ilmu pengetahuan, mempunyai potensi untuk diteliti dalam rangka menjawab masalah di bidang ilmu arkeologi, sejarah, arsitektur, dan teknik bangunan. (c) Memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa, yaitu sebagai Rumah Tradisional Milik Setyo Pranyoto di Padukuhan Sungapan RT 68, Kalurahan Argodadi, Kapanewon Sedayu, Kabupaten Bantul, dapat ditetapkan menjadi Cagar Budaya yang diutamakan untuk dilestarikan dalam wilayah Kabupaten Bantul, mengingat tinggalan lain di lokasi tersebut yang relatif utuh.
b. Mewakili masa gaya yang khas, sebagai arsitektur tradisional.
c. Tingkat keterancamannya tinggi, karena di sekitarnya sudah dibangun rumah-rumah penduduk. Berdasarkan data yang tersedia hingga saat ini dan kajian yang telah dilakukan, maka Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bantul merekomendasikan kepada Bupati Bantul sebagai berikut: Rumah Tradisional Milik Setyo Pranyoto ditetapkan statusnya sebagai Bangunan Cagar Budaya Peringkat Kabupaten.
Dengan pencanangan rumah tradisional milik Setyo Pranyoto semoga warisan budaya yang bersejarah semoga tetap lestari dan menjadi aset yang bernilai tinggi bagi Desa/Kalurahan Argodadi.
Terima Kasih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat.