Jathilan "Carong" Argodadi

🗓 16 May 2026 ✍ Kojrat Wiyana 👁 44x dibaca
Jathilan

Sejarah Asal Usul Jathilan

Jathilan (jaran kepang/kuda lumping) adalah seni tari rakyat Jawa yang menggambarkan prajurit berkuda, berkembang dari tradisi ritual menjadi hiburan rakyat. Berakar dari kisah Panji dan sejarah Kerajaan Jawa (Majapahit), tarian ini melambangkan keberanian prajurit, kini populer di Yogyakarta dan Jawa Tengah, serta sering menampilkan unsur magis (kerasukan/ndadi).

  • Akar Historis: Jathilan diyakini berasal dari kesenian Reog Ponorogo, di mana Jathil adalah sebutan untuk prajurit berkuda yang lincah. Akar sejarahnya juga sering dikaitkan dengan tradisi latihan perang prajurit Kerajaan Majapahit.
  • Makna Nama: Istilah "Jathilan" dipercaya berasal dari ungkapan bahasa Jawa, "Jarane jan thil-thilan tenan", yang berarti," Kudanya benar-benar bergerak tak beraturan", menggambarkan gerakan dinamis dan energetik penari.
  • Evolusi Fungsi: Awalnya, jathilan adalah bagian dari ritual magis atau upacara adat. Seiring waktu, fungsinya berkembang menjadi seni pertunjukan rakyat yang menghibur, namun tetap mempertahankan unsur magis (ndadi atau kesurupan) sebagai daya tarik utama.
  • Karakteristik: Penari menggunakan properti kuda tiruan (kuda lumping) yang terbuat dari anyaman bambu. Musik pengiringnya biasanya menggunakan gamelan sederhana yang khas.
  • Warisan Budaya: Jathilan telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBtb) Indonesia dari Daerah Istimewa Yogyakarta sejak tahun 2016.

Jathilan kini tumbuh subur sebagai seni kerakyatan yang menampilkan kesigapan prajurit berkuda melalui gerak tari yang dinamis.

Carong Argodadi sebuah Kesenian Kolaborasi yang Unik dan Eksotik

Kesenian Jathilan Carong Argodadi adalah termasuk jenis kesenian kreasi yang berbasis kesenian jathilan atau kuda lumping atau kuda kepang. Kesenian jathilan yang asli (klasik) dengan 8 pemain dalam satu babak merupakan budaya lokal warisan nenek moyang. Namun seiring dengan perjalanan waktu, kesenian ini sekarang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga disebut Jathilan Kreasi dengan tujuan untuk lebih memberikan daya tarik kepada penonton. Ciri khusus jathilan klasik antara lain adalah kostum pemain terdiri dari celana panji, rompi, sampur/selendang, kuluk (penutup kepala dengan dilengkapi lancur/bulu ekor ayam jago). Senjata untuk perangnya adalah pethek (sebilah bambu berbentuk pisau). Properti yang lain adalah kuda kepang dengan ciri khas kepala menunduk beda dengan kuda kepang kesenian jathilan "oglek" perkembangan dari jathilan klasik dengan 4 pemain, kepala kudanya menghadap keatas seolah akan melompat. Jenis iringannya adalah gendhing dan lagu jawa mocopat, seperti maskumambang, pangkur maupun megatruh. Untuk gerakan tarian/joget dimulai dari sembahan, ubengan dan lumbungan dengan iringan alat musik kendhang, angklung, kecrek dan bendhe.

Karakteristik Jathilan Carong

Pertunjukan jathilan Carong ini menonjolkan gerakan elegan penunggang kuda kepang serta dramatisasi alur cerita, seringkali melibatkan tokoh yang membawa pecut. Jathilan Carong adalah hasil kolaborasi dari 4 (empat) seni tradisional sehingga menjadi sebuah tontonan yang unik, eksotik dan menghibur yang berbeda dengan jathilan klasik yang terkesan pemainnya kasar, beringas, musik iringan yang monoton dan mistis apalagi jika ada pemain bahkan penonton yang kesurupan roh halus (ndadi) dan sulit disembuhkan suasana panggung menjadi mencekam. Pemain yang kesurupan konon cerita bergerak tanpa kesadaran diri bahkan sulit disembuhkan. Adapun seni yang dipadukan menjadi jathilan carong ini adalah seni gamelan, kethoprak, wayang orang, reog ponorogo dan jathilan "oglek". Ciri khas carong yang tidak ada pada kesenian jathilan pada umumnya adalah pada seni joget yang terdiri jenaka, ketegasan, tari dan penjiwaan pemain ketika berjalan. Adegan ini dapat muncul dalam satu babak, misal ketika sedang terjadi adegan peperangan tiba-tiba musik berubah menjadi sampak lasem maka 2 pemain akan berperang ala wayang orang dan 2 pemain lain akan berperang ala kethoprak.

Pentas Pertunjukan Carong Tiga Babak

Ada dua macam pentas carong selama ini, yaitu pentas tanggapan (oleh individu) dan pentas kedinasan untuk penyambutan tamu hingga acara festival. Pentas tanggapan oleh individu biasanya terdiri dari 3 (tiga) babak dengan 4 pemain dan satu pemecut. Masing-masing babak berdurasi kurang lebih 45 menit. Babak pertama semua pemain (laki-laki) mengenakan kostum alusan, rias bagus ala wayang orang. Joget dimulai dari joget kiprahan (alusan ala joget wayang orang) dilanjutkan joget jathilan/oglek, dilanjutkan perangan dengan iringan gendhing dan perangan oglek terus adegan lumbungan dilanjutkan perangan ala kethoprak dan diakhiri dengan ndadi/kesurupan. Namun adegan kesurupan ini bukan kesurupan atau kerasukan makhluk halus namun sekadar action dan mudah disembuhkan. Dalam satu babak pertunjukan dikendalikan/dipimpin oleh pemecut dari awal hingga akhir termasuk sebagai pawang bagi pemain yang kesurupan. Sehingga dalam satu babak ini terdapat kolaborasi musik reog dan gendhing Jawa secara bergantian untuk mengiringi joget ladrangan, joget alusan, perang-perangan dan lumbungan hingga kesurupan. Babak kedua, dengan 4 pemain putri dan seorang pemecut. Kostum yang dikenakan adalah alusan ala pemain wayang orang. Sedangkan babak ketiga dengan 4 pemain laki-laki  berpakai ala warok. Urutan variasi joget babak kedua dan ketiga sama seperti babak pertama. Itulah mengapa kesenian ini disebut carong (campuran reog, oglek, kethoprak, wayang orang). Empat pemain dengan tiga macam kostum, naik kuda kepang/kuda tegar, berjoget, menari, berperang dan kesurupan hingga akhir babak. Yang kedua adalah jenis pentas kedinasan/penyambutan biasanya untuk penyambutan tamu, lomba seni hingga festival, yang berbeda terutama adalah pada durasi. Durasi pentas biasanya disesuaikan dengan permintaan tidak harus 45 menit dalam satu babak. Pernah suatu ketika carong hanya pentas 8 (delapan) menit pada sebuah acara kedinasan. Pentas pertunjukan hanya satu babak dan pemain mengenakan kostum warok Ponorogo.

Sejarah Lahirnya Jathilan Carong

Jathilan Carong lahir pada tahun 1986. Menurut salah satu narasumber, pemain dan pendiri Bapak Sukarman, terinspirasi oleh oleh munculnya jathilan oglek dengan 4 pemain dan satu pemecut/pawang pada waktu itu. Atas dasar musyawarah dan kesepakatan dari para pelaku seni dari berbagai macam kesenian tradisional akhirnya mencetuskan ide untuk membentuk sebuah kesenian kolaborasi yang berbasis jathilan. Pertunjukan ini akan menggabungkan unsur seni jathilan klasik/oglek, reog, kethoprak dan wayang orang (Carong). Pada awal berdirinya carong yang notabenenya adalah sebuah kesenian kolaborasi yang hanya ada satu-satunya di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta bahkan Indonesia, keberadaannya semakin terkenal hingga luar Argodadi bahkan luar kabupaten sehingga mendapatkan respon yang positif dari masyarakat dan sering mendapat order tanggapan. Dan dari banyaknya tanggapan itulah, kelompok ini mampu membeli property termasuk seragam pemain. Seiring perjalanan waktu akhirnya jathilan carong diakusisi sebagai Kesenian Jathilan milik Desa Argodadi. Tanggapan juga datang dari lingkungan kedinasan, mulai dari tingkat kalurahan, kabupaten hingga provinsi (Daerah Istimewa Yogyakarta) untuk tampil menghibur tamu, mengikuti lomba kesenian tradisional maupun FKY. Jathilan Carong pernah mengukir sejarah menjadi juara I dalam lomba aneka kesenian tradisional tingkat kabupaten. Kelompok jathilan carong ini masih eksis hingga sekarang sebagai aset kesenian yang sangat berharga bagi Argodadi dan berusaha merekrut pemain-pemain muda agar carong tetap eksis dan dapat diwariskan kepada generasi masa depan. Dukungan lain yang tidak kalah penting adalah sebagian besar dari 14 pedukuhan di Argodadi mempunyai kelompok kesenian jathilan.

Terima Kasih telah membaca artikel ini semoga bermanfaat.

Artikel Terkait

← Kembali ke Berita