Cerita tentang pengaruh kebesaran Kerajaan Majapahit kiranya bukanlah sekedar dongeng belaka, kalau diceritakan tidak akan selesai selama 1001 malam. Banyak peninggalan bersejarah menjadi buktinya mulai dari budaya, tradisi maupun karya seni. Salah satu peninggalan yang sangat mempengaruhi peradaban adalah seni ukir Kerajaan Majapahit yang jauh lebih tua dari seni ukir daerah lain termasuk Jogjakarta. Begitu kuatnya pengaruh Majapahit pada masa kejayaannya pada abad ke-14 pada pemerintahan Hayam Wuruk-Gajah Mada, bukan hanya sampai ke seluruh Nusantara tetapi hingga ke Semenanjung Malaya, Singapura, Brunei, hingga Filipina selatan. Seni ukir Majapahit ini tentu saja mempengaruhi karya seni ukir Kerajaan Mataram Kuno maupun Mataram Islam yang berkembang mulai abad 18 Masehi hingga sekarang. Tak terelakkan Kalurahan Argodadi sebagai bagian dari wilayah Ngayogyokarto Hadiningrat layak menjadi sentra kerajinan ukir kayu terbukti dengan kemunculannya para pengrajin ukir kayu, salah satunya adalah Kerajinan Tangan Ukir Kayu Lintang Panjer, sebuah usaha ukir kayu milik Bapak Alip yang berada di Sungapan, RT 76, Kalurahan Argodadi. Bapak Alip tertarik mengukir kayu semenjak duduk di bangku SMP ketika dia memperoleh mata pelajaran Prakarya. Dalam hatinya dia merasa nyaman dengan jenis karya seni yang merupakan warisan budaya nenek moyang bangsa Indonesia, sehingga merasa terpanggil untuk ikut serta melestarikannya. Berbekal dari ketertarikannya dalam bidang ukiran dia bertekat memburu ilmu lebih lanjut dengan melanjutkan belajar di SMSR jurusan ukir kayu. Di situlah dia berhasil menambah ilmu dan pengalaman lebih lanjut sehingga setelah lulus dia tidak menyia-yiakan kesempatan untuk segera menambah bekal sebagai pengrajin ukir dengan bekerja di pengusaha ukir kayu yang sudah terkenal agar mampu mengukir kehidupan yang gemilang di masa depan. Pengalaman pekerjaannya di perusahaan ukiran yang pertama adalah pekerjaan mengukir konstruksi rumah Joglo. Selang beberapa waktu karena berbagai hal, dia berpindah ke pengusaha lain yaitu pengusaha mebelair yang diukir. Di sana dia tetap konsisten mengerjakan bidang ukiran.
Keberanian mengambil keputusan sebagai pengrajin ukir mandiri
Dengan melihat permintaan akan produk kerajinan ukir dan adanya peluang yang masih sangat terbuka, dengan sarana prasarana yang tersedia, di rumah warisan orang tuanya yang cukup luas pada tahun 2000 dia memutuskan untuk memulai usaha ukir secara mandiri. Keputusan ini ternyata tidak sia-sia, ternyata usahanya direspon positif oleh teman-teman dan para tetangga. Berbagai macam pesanan baik yang berupa jasa ukir atau berbagai macam mebelair ukir atau wall dekor mulai berdatangan. Motif ukir yang dipesan kebanyakan adalah ukir gaya Jogjakarta. Motif ukir gaya Yogyakarta umumnya dicirikan relung-relung daun pakis yang lemah gemulai, dengan perpaduan daun cembung dan cekung. Motif tradisional ini sering menampilkan bentuk bunga atau buah ceplok yang berpusat pada empat rumus desain dasar. Namun tak pelak, ada customer menginginkan motif ukir kontemporer sesuai selera. Ini tentu menjadi sebuah tantangan sekaligus peluang bagi dia karena tidak semua pengrajin ukir kayu mau menerima garapan ukir kayu yang notabenenya dibilang "sulit". Namun dia menyadari justru itulah pekerjaan yang membuatnya menjadi semakin mumpuni. Dengan tekatnya menerima pesanan karya ukir yang menantang ini, lambat laun customer dari berbagai penjuru berdatangan.
Ekspansi karya ukir yang lebih menantang
Seiring berjalannya waktu, dengan bertambahnya pengalaman pada suatu hari Bapak Alip datang ke rumah teman seorang pengrajin Gandhewo, yaitu salah satu alat perlengkapan untuk Jemparingan, sehingga muncullah insting sebagai seorang pengrajin sekaligus sebagai seorang pengusaha. Dia mencoba memberanikan diri untuk membuat karya ini, dengan berbekal ketekunan dan komitmen sebuah karya baru Gandhewo akhirnya bisa dibuat untuk memenuhi permintaan dari para penggemar Jemparingan yang sekarang mulai menjamur. Inovasi yang kedua adalah karya kerajinan warangka keris. Warangka keris adalah sarung atau wadah bilah keris yang berfungsi sebagai pelindung dan penanda status sosial. Harga warangka keris bervariasi, tergantung pada desain dan tentu saja bahan kayu yang digunakan, biasanya harga dipatok mulai dari Rp 50.000 hingga 7jt rupiah atau lebih jika bahannya adalah kayu cendana wangi dan tentu saja dengan detail garapan yang istimewa. Warangka pada umumnya dibuat dari kayu jati, cendana, timoho adem-adem mati dan masih banyak lagi. Secara garis besar, warangka mempunyai bentuk utama, yaitu Ladrang/Branggah (formal) dan Gayaman (santai/harian), dengan ragam gaya khas Surakarta (Solo), Yogyakarta, hingga gaya daerah lain. Karya ini bermula ketika ada seorang pelanggan yang datang untuk memesan warangka keris. Tanpa pikir panjang walaupun ini juga sebuah tantangan, disanggupilah pesanan ini. Karya ini memang memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi namun jika berhasil tentu juga akan memberikan kepuasan tersendiri sekaligus memberikan cuan yang sangat memuaskan.
Target yang ingin dicapai
Sudah selayaknya sebagai seorang pengusaha dan penggemar karya seni ukir, disamping berniat untuk ikut serta melestarikan budaya tradisional yang adiluhung agar tidak punah, dia tetap konsisten untuk terus mengembangkan usaha. Dia bermimpi dapat memberikan pelayanan yang terbaik kepada konsumen. Target ini tentu saja akan tercapai dengan syarat didukung sarana prasarana, tenaga kerja, modal usaha yang memadai, dan tak kalah pentingnya manajemen yang bagus dan dukungan masyarakat. Peluang pasar sebenarnya sudah sangat terbuka mulai dari tingkat lokal, nasional hingga Internasional.
Jaringan pemasaran yang dibangun
Pemasaran adalah sektor penting untuk suksesnya suatu usaha. Betapapun bagusnya suatu produksi tetapi jika produk itu tidak dikenal oleh khalayak produk tidak akan laku. Sebagai jurus pemasarannya, Bapak Alip mengandalkan dari cerita pelanggan yang merasa puas akan hasil karya kerajinan ini. Kedua dengan melalui media pemasaran digital yang dianggap paling efektif dan efisien.
Terima kasih
Wassalam